INDONESIA – Psikolog forensik Reza Indragiri Amriel menilai Bripka Madih sebagai informan jika tuduhan pemerasan yang dikatakannya terbukti benar.

Pelapor seringkali dipahami sebagai saksi pelapor atau orang yang memberikan laporan atau kesaksian tentang adanya dugaan tindak pidana kepada aparat penegak hukum dalam proses peradilan pidana.

Bripka Madih sendiri merupakan anggota Provos di Polres Jatinegara. Ia mengaku menjadi korban pemerasan saat hendak melaporkan masalah perampasan tanah orang tuanya ke Polda Metro Jaya pada 2011.

“Cek berita dugaan pungli (penagihan liar). Kalau benar demikian, maka Madih melakukan whistleblowing,” kata Reza dalam keterangan tertulis, Senin (6/2/2023).

Dalam dugaan pemerasan tersebut, Bripka Madih tidak hanya dimintai uang, tapi juga tanah, oleh penyidik ​​yang tidak bertanggung jawab.

Reza lantas teringat kasus Aipda HR pada Oktober 2022 ketika berbicara tentang pelapor.

Reza kemudian mulai bercerita bahwa saat itu seorang anggota Polri berpangkat Aipda berinisial HR menulis “sarang pungli” di dinding gedung Polres Luwu.

Setelah itu, kata Reza, Aipda HR disebut mengalami gangguan jiwa.

Reza kemudian mempertanyakan jika dirinya mengalami gangguan jiwa, mengapa diperbolehkan bekerja?

“Kalau benar-benar mengalami gangguan jiwa, kenapa diperbolehkan bekerja?” kata Reza.

“Dua situasi di atas sama dengan penelitian yang menemukan whistleblower sering mendapat reaksi balik dari rekan yang ‘dirugikan’, bahkan dari kantor tempatnya bekerja,” lanjutnya.

Reza kemudian mengungkapkan, dalam kasus Bripka Madih, tak hanya tuduhan pemerasan yang diusut. Tapi juga soal tanah yang disengketakan oleh Madih.

“Cek saja dokumen tanah dan keabsahannya,” katanya.

Selain itu, Reza juga meminta agar kasus Bripka Madih yang dilaporkan terkait KDRT juga harus disikapi secara berimbang.

“Kenapa Polda Metro Jaya tiba-tiba membeberkan kasus KDRT ke publik?” dia menyimpulkan.

Bripka Madih sebelumnya pernah dilaporkan ke istri pertamanya soal kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Humas Polda Metro Jaya Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan, Bripka Madih dilaporkan oleh istri pertamanya, SK.

Laporan ini diajukan pada tahun 2014, dan diproses hingga mencapai puncaknya dengan hasil pelanggaran disiplin pada sidang Kode Etik Profesi Polri tahun 2022.

“Istri sahnya atas nama SK diceraikan dulu terkait KDRT tahun 2014 dan vonisnya melalui pelanggaran disiplin,” kata Trunoyudo, Jumat (3/2/2023).

Bripka Madih menikah lagi dengan perempuan berinisial SS, sebelum dilaporkan SS atas dugaan KDRT pada Agustus 2022.

You May Also Like

Belum Sempat Kabur, Jambret di Kalipare Berhasil Diamankan Warga Malang

INDONESIA – Seorang laki-laki berinisial AP warga Dusun Krajan Desa Putukrejo Kecamatan…

Waspada, Modus Penipuan Grup Telegram Mengaku Bank BCA 

INDONESIA – Modus penipuan menggunakan platform aplikasi pesan media sosial terus bermunculan.…

Maling Celana di Tulungagung Lega Dimaafkan Korban, Polisi Tempuh Restorative Justice

INDONESIA – Pencuri celana di Kabupaten Tulungagung akhirnya bisa bernafas lega. Pasalnya,…

Tersengat Listrik Saat Membenahi Antena TV, Adik Meninggal, Kakak Luka-luka

INDONESIA – Sebuah kejadian naas menimpa saudara kandung dari Kecamatan Tumpang, Kabupaten…